OPINI : Cukup Narasi, Saatnya Adu Konsep dan Solusi untuk Wilayah Banten Utara
Penulis : Kurtubi
Tokoh Masyarakat Tangerang
KAB,TANGERANG - Bantentodays.com - Wilayah Banten Utara yang mencakup Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, hingga sebagian wilayah Kabupaten Serang dan Kecamatan-kecamatan pesisir utara lainnya kini berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita menyaksikan deru pembangunan yang tak pernah henti jalan-jalan baru dibentangkan, kawasan perumahan tumbuh bak jamur di musim hujan, investasi industri terus masuk. Namun di sisi lain, derita rakyat masih terasa nyata di setiap sudutnya jalan yang baru dibangun sudah retak, banjir merendam pemukiman berulang kali setiap musim hujan, akses air bersih masih menjadi barang mewah bagi ribuan keluarga, lapangan kerja yang layak sulit dijangkau, dan tata ruang yang seakan tak punya arah jelas.
Sudah bertahun-tahun keluhan ini bergema. Mulai dari rapat desa, musyawarah kecamatan, hingga forum-forum di tingkat kabupaten dan provinsi. Kita dengar banyak janji, kita baca banyak narasi indah dalam dokumen perencanaan, kita saksikan pejabat turun ke lapangan, berfoto, berjanji, lalu kembali lagi ke ruang kerjanya. Lalu masalah tetap ada bahkan makin menumpuk.
Narasi "perampasan", "penjajahan", dan "tata ruang didesain untuk menjajah Banten Utara" adalah narasi yang tendensius dan tidak mengacu pada substansi perencanaan pembangunan. Narasi seperti ini sudah kehilangan gaungnya di masyarakat Banten Utara.
Mengapa? Karena masyarakat Banten Utara sudah bergeser. Dari berdebat wacana, ke menuntut solusi.
JIKA ADA MASALAH, SALURANNYA ADALAH DATA DAN ATURAN HUKUM, BUKAN KOAR-KOAR.
Setiap proyek pembangunan di Indonesia, termasuk di Banten Utara, berjalan di atas koridor hukum: UU Penataan Ruang, UU Lingkungan, UU Ketenagakerjaan, dan juga ada peraturan peraturan daerah.
Jika ada pihak yang merasa dirugikan:
Sampaikan dengan Data dan Fakta.
Tunjukkan dokumen, peta, bukti kerugian.
Uji di Pengadilan, Ada PTUN untuk sengketa izin, ada jalur perdata dan pidana untuk sengketa lainnya.
Dialog dengan Pemerintah.
Dorong dan Desak Pemda dan DPRD untuk memperbaiki yang salah dan mencari solusinya secara bersama.
Mengulang narasi yang sama tanpa bukti dan tanpa masuk jalur hukum hanya akan membuat masalah tidak selesai. Itu bukan kritik, itu kebisingan. Dan kebisingan tidak membangun apa-apa.
NARASI INI TIDAK LAGI MENARIK BAGI MASYARAKAT BANTEN UTARA
Ulama, tokoh masyarakat, dan warga Banten Utara punya kearifan sendiri dalam menyelesaikan persoalan. Cara masyarakat banten adalah musyawarah, dialog, dan mencari jalan tengah dengan berbagai pertimbangan: agama, sosial, dan ekonomi.
Narasi konfrontatif yang diulang-ulang justru tidak nyambung dengan karakter masyarakat Banten, Masyarakat yang pragmatis. Mereka bertanya: "Ini buat saya apa?"
YANG DIBUTUHKAN RAKYAT BANTEN UTARA ADALAH SOLUSI NYATA
Mari jujur. Isu utama warga hari ini bukan narasi. Isu utamanya adalah perut dan masa depan.
Yang dituntut masyarakat Banten Utara bersifat sangat solutif:
- Lapangan Kerja Lokal
Berapa banyak anak Tangerang, Serang, dan sekitarnya yang direkrut saat pembangunan dan operasional? Ada pelatihan untuk menyiapkan SDM lokal? Dan merekrutan tenaga kerja lokal haruslah 70%
- Peningkatan Usaha dan UMKM
Bagaimana rantai pasok proyek bisa masuk ke tangan pedagang, vendor, dan usaha kecil lokal? Catering, sewa alat, material dan lain lainnya.
- Bantuan yang Tepat Sasaran
Pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan yang benar-benar menyentuh warga terdampak.
Itu yang diukur. Itu yang dinilai. Bukan seberapa keras narasi di medsos.
CATATAN TENTANG LAHAN DI TANGERANG UTARA
Realitanya, sebagian besar lahan sawah di Tangerang Utara saat ini juga sudah bukan lagi milik masyarakat lokal secara turun-temurun. Alih fungsi dan perubahan kepemilikan sudah terjadi 10 tahun ke belakang.
Maka yang paling relevan sekarang adalah: bagaimana pembangunan di atas lahan itu bisa mengembalikan manfaatnya ke masyarakat? Jawabannya: dengan menciptakan lapangan kerja, menghidupkan ekonomi, dan menjaga keberlanjutan.
UKUR PEMBANGUNAN DARI MANFAATNYA
Masyarakat Banten Utara tidak anti pembangunan. Yang di tolak adalah pembangunan tanpa manfaat dan kritik tanpa solusi.
Karena Banten Utara yang maju adalah Banten Utara yang warganya bekerja dengan tenang, bukan Banten Utara yang gaduh oleh narasi.
( Dyt )
