Jalan Raya Mauk: Ruas Percontohan yang Masih Kokoh Dibongkar, Aktivis Desak Dinas Bina Marga Jelasakan Alasan Teknis
Fhoto Shandi Martha Praja kordinator Front pemuda dan rakyat Noesantara
KAB,TANGERANG - Bantentodays.com - Proyek perbaikan dan peningkatan yang tengah di kerjakan di sepanjang Jalan Raya Mauk, yang sejak awal dibangun sebagai ruas percontohan betonisasi dengan struktur lantai beton bertulang tebal 25 sentimeter dan lebar 7 meter, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Jalan yang dinilai masih kuat, mulus, dan layak dilalui justru dibongkar , menimbulkan kerugian waktu, biaya, serta memicu kemacetan parah harian. Shandi Martha Praja Kordinator Front pemuda dan rakyat Noesantara mempertanyakan prioritas serta dasar teknis Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang dalam menetapkan proyek ini.
Data Kondisi Jalan yang Menjadi Polemik
Berdasarkan pengamatan , pengukuran mandiri yang dilakukan Shandi, serta catatan teknis pembangunan jalan tersebut:
Parameter Kondisi Jalan Keterangan dan Hasil Pengamatan
Jenis Konstruksi Jalan Beton Bertulang (Ruas Percontohan).
Ketebalan Lantai Beton = ± 25 cm
Lebar Jalan = 7 meter + bahu jalan 1,5 m kiri-kanan
Tahun Pembangunan = 2001
Kondisi Sebelum Dibongkar = 92%
permukaan masih utuh, retak rambut sangat terbatas, tidak ada kerusakan struktural, tidak ada lubang, penurunan tanah nihil.
“Kami ukur sendiri ketebalan dan periksa strukturnya. Betonnya masih keras, tidak hancur, tidak rapuh. Secara teknis jalan ini masih memiliki sisa umur layanan minimal 10 tahun lagi. Tidak ada alasan mendesak untuk membongkarnya secara menyeluruh,” ungkap Shandi, koordinator Front pemuda dan Rakyat Noesantara, saat melakukan peninjauan langsung di lokasi, Rabu (19/8/2026).
Proyek Berjalan, Kemacetan Terjadi Setiap Hari
Pekerjaan yang dimulai sejak awal Agustus 2026 mencakup pembongkaran lantai beton yang masih utuh, pembersihan lapisan pondasi, hingga persiapan pengecoran ulang. Hanya satu lajur yang dibuka bergantian untuk lalu lintas, sehingga:
Jam keramaian pagi (06.00–08.30): antrean mencapai 3,5 kilometer, waktu tempuh yang biasanya 15 menit meloncat menjadi 90–120 menit
Jam keramaian sore (15.30–18.30): kemacetan merambat hingga batas wilayah Kecamatan Sukadiri
Kerugian harian warga: bahan bakar terbuang, keterlambatan kerja/sekolah, biaya logistik naik
Risiko keselamatan: pengendara sepeda motor sering terpaksa naik ke bahu jalan yang sempit dan berdebu
“Saya antar anak sekolah biasanya 20 menit, sekarang butuh lebih dari satu jam. Setiap hari bensin terbuang percuma. Jalan yang kami banggakan karena halus dan kuat kini justru menyiksa kami,” ungkap Salah satu warga yang enggan disebut namanya yang melintas jalan ini setiap hari.
Kritik Mendalam: Anggaran Tepat Sasaran atau Sebaliknya?
Front pemuda dan Rakyat Noesantara menyoroti dua hal utama yakni alasan teknis pembongkaran serta prioritas anggaran yang dinilai menyimpang dari kebutuhan riil.
Pertanyaan Pokok yang Belum Terjawab ?
- Apakah ada survei/kajian kerusakan resmi yang menyatakan jalan ini rusak parah secara struktural? Bila ada, mengapa tidak dipublikasikan?
- Berapa total anggaran yang digunakan untuk membongkar dan membangun ulang jalan yang masih layak ini?.
Mengapa ruas ini didahulukan, sementara 27 ruas jalan desa dan penghubung antar-kecamatan di wilayah Kabupaten Tangerang dalam kondisi rusak berat, berlubang dalam, dan berbahaya bagi pengendara justru belum tersentuh bertahun-tahun?
Apakah pembangunan ini bagian dari rencana pelebaran jalan? Jika iya, tidak ada papan informasi proyek yang memuat rencana tersebut.
“Kami sama sekali tidak menolak pembangunan infrastruktur. Justru kami mendukungnya, asalkan tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat manfaatnya. Tambah Shandi.
Jalan Raya Mauk ini adalah proyek percontohan betonisasi yang Secara struktur beton bertulang masih sangat kuat, tidak ada retak melintang yang memutus, tidak ada penurunan pondasi. Secara standar rekayasa sipil, jalan ini bisa melayani kendaraan berat hingga 10 tahun lagi tanpa perbaikan besar.
Sementara di sisi lain, jalan-jalan penghubung Seperti di pakuhaji serta didepan TPA Jatiwaringin, hingga ke wilayah yang lain masih ada yang berlubang sedalam 15–25 sentimeter, aspal hancur hingga ke tanah, membahayakan pengendara sepeda motor setiap hari namun diabaikan.
"Ini bukan soal tidak mau dibangun. Ini soal , mengapa yang masih bagus dihancurkan, sementara yang sudah rusak parah dibiarkan? Apakah anggaran harus diserap walau tidak mendesak? Kami minta Dinas Bina Marga membuka data lengkap hasil penilaian kerusakan, anggaran, serta jadwal proyek ini secara transparan kepada masyarakat. Jangan sampai ada pemborosan uang rakyat atas alasan yang tidak jelas.” Tandas Shandi
Masyarakat Turut Menyuarakan Keresahan.
“Kami sebagai Masyarakat mendukung kemajuan daerah. Tapi pembangunan yang menyusahkan rakyat tanpa alasan yang jelas bukan kemajuan. Masyarakat butuh penjelasan yang jujur , apa sebenarnya alasan pembongkaran ini? Apakah ada perubahan rencana tata ruang? Pelebaran? Atau sekadar perbaikan rutin yang dipaksakan? Informasi harus terbuka agar tidak memancing kecurigaan di tengah masyarakat.” Tegas Shandi.
Belum Ada Penjelasan Resmi dari Dinas Bina Marga
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada papan informasi proyek yang terpasang di lokasi pekerjaan yang memuat antara lain.
- Dasar kajian teknis kerusakan
- Nama proyek & spesifikasi pekerjaan.
- Nilai anggaran.
- Kontraktor pelaksana.
- Jadwal mulai & selesai pekerjaan.
- Nomor pengaduan masyarakat.
Pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang juga belum merespons upaya konfirmasi maupun permintaan penjelasan dari awak media maupun perwakilan warga.
Harapan Masyarakat Terhadap Pemerintah Daerah.
Front pemuda dan Rakyat Noesantara juga menuntut beberapa hal diantaranya.
- Penghentian sementara pembongkaran hingga ada penjelasan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipublikasikan.
- Pemasangan papan proyek lengkap sesuai ketentuan agar masyarakat mengetahui informasi dasar proyek.
- Evaluasi ulang prioritas anggaran perbaikan dialihkan ke ruas jalan yang benar-benar rusak dan membahayakan.
- Keterlibatan masyarakat dalam tim pemantauan pelaksanaan proyek agar transparan dan akuntabel.
“Jika setelah penjelasan ternyata memang ada alasan teknis yang kuat dan kami pahami, kami akan dukung sepenuhnya. Tapi jika ternyata tidak ada alasan yang mendesak, maka biarkan jalan yang masih bagus ini melayani warga dan perbaikilah yang sudah rusak parah lebih dulu,” pungkas Shandi .
( Dyt )

