Jalan Raya Mauk: Ruas Percontohan Betonisasi Masih Kokoh, Dibangun Ulang Meski Layak Pakai, Picu Kemacetan Panjang
Documentasi Anwar ota : pengamat sosial
KAB,TANGERANG- Bantentodays.com – Sabtu (08/08/2026) - Jalan Raya Mauk yang sempat dibanggakan sebagai ruas percontohan pembangunan jalan betonisasi dengan standar ketahanan tinggi, kini menjadi sorotan tajam dikalangan masyarakat serta pengamat sosial. Pasalnya, meski kondisi fisik jalan masih sangat kuat, mulus dan belum menunjukkan tanda kerusakan yang berarti, ruas jalan tersebut justru tengah digarap kembali dalam pekerjaan perbaikan dan peningkatan. Keputusan ini memicu polemik hangat, sekaligus menimbulkan kemacetan berkepanjangan yang merugikan ribuan pengguna jalan setiap harinya.
Pembangunan betonisasi ruas jalan ini dikerjakan beberapa waktu lalu dengan rancangan khusus, diharapkan mampu menahan beban kendaraan berat dan bertahan hingga belasan tahun tanpa perbaikan besar. Pantauan di lapangan menunjukkan, permukaan beton masih rata, tidak terdapat retakan lebar, amblas, atau kerusakan struktur yang membahayakan pengguna jalan. Namun sejak satu minggu terakhir, sebagian badan jalan ditutup dan dipagar, dengan alat berat serta material bangunan diletakkan di sepanjang bahu jalan guna memulai pekerjaan pembangunan jalan.
Akibat penyempitan jalur yang drastis, arus lalu lintas kini kerap tersendat bahkan macet total. Pada jam sibuk pagi pukul 06.00–08.00 dan sore pukul 16.00–18.00, antrean kendaraan dapat membentang hingga berkilo-kilometer, melibatkan kendaraan roda dua, roda empat, hingga truk pengangkut barang.
Pengamat Sosial . Anwar ota menanggapi dan menyampaikan keberatannya, terhadap pembangunan jalan raya mauk yang tengah di kerjakan.
"Kami sangat menghargai upaya pemerintah Daerah dalam membangun infrastruktur yang baik. Tapi kami juga bingung melihat kenyataan di lapangan. Jalan ini dijadikan percontohan Betonisasi, kondisinya masih sangat prima, belum ada lubang atau kerusakan yang mengganggu. Kenapa harus dilakukan pembongkaran? Jika memang ada perencanaan, lebih baik di alihkan ke jalan yang kondisinya rusak parah. Akibatnya warga yang menanggung kerugian , terlambat bekerja, biaya bahan bakar meningkat, hingga keselamatan terancam karena padatnya arus lalu lintas. Ungkap Anwar ota.
Keluhan serupa datang dari pelaku usaha pengemudi angkutan umum, yang enggan di sebut namanya yang melayani rute Kronjo - Pasar Baru, yang mengaku pendapatannya menurun drastis belakangan ini.
"Biasanya sekali jalan hanya butuh waktu 45 menit, sekarang bisa sampai Dua jam lebih. Penumpang banyak yang batal naik karena takut terlambat, dan kami juga boros bahan bakar. Sangat disayangkan jalan yang bagus malah jadi masalah karena pengerjaan yang seharusnya tidak mendesak." Ujar nya.
Anwar ota juga meminta transparansi terkait anggaran dan detail teknis pekerjaan, serta jaminan bahwa setelah selesai jalan tidak akan digarap kembali dalam waktu dekat.
"Kami ingin jalan yang awet dan lancar. Tapi jangan sampai proyek ini terkesan hanya untuk menghabiskan anggaran tanpa perencanaan yang matang dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas. Kami meminta pihak berwenang memantau langsung pelaksanaan pekerjaan ini agar selesai tepat waktu dan hasilnya benar-benar maksimal Tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pekerjaan penyempurnaan jalan masih berlangsung. Warga berharap polemik ini menjadi evaluasi bersama agar perencanaan pembangunan infrastruktur ke depannya lebih matang, tepat sasaran, dan tidak merugikan masyarakat yang dilayani.
( Dyt)
